Suatu hari Rasulullah saw
melihat setumpuk kurma. Beliau bertanya kepada Bilal, “Untuk apa ini?” Dijawab,
“Ya Rasulullah, kurma ini untuk persediaan kebutuhan di masa depan.” Mendengar
hal tersebut, Nabi Muhammad saw pun berucap, “Apakah engkau tidak takut terkena
api neraka pada hari perhitungan kelak? Bagikanlah kurma itu, Bilal, dan jangan
takut bahwa Allah akan membiarkan kita kelaparan.”
Dewasa ini banyak sekali
contoh orang yang khawatir kesulitan pangan kemudian bertindak, seperti Bilal.
Mereka yang kaya memborong dan menimbun bahan-bahan kebutuhan pokok. Sedangkan
yang miskin hanya bisa mengeluh dan gigit jari. Namun, Islam datang bagaikan
cahaya penerang gulita. Rasulullah saw mengajarkan umatnya agar jangan suka
menimbun kebutuhan pokok karena takut kelaparan di masa depan. Islam justru
mengajarkan agar setiap Muslim gemar memberi terutama kepada mereka yang
ditimpa kesulitan. “Hai hamba-Ku, dermakanlah hartamu, niscaya engkau akan diberi
pula nafkah,” perintah Allah dalam salah satu hadis qudsi Dalam hadis qudsi yang
lain, Allah SWT berfirman, “Hai anak cucu Adam, keluarkanlah isi gudang
simpananmu! Dan ketahuilah, bahwa gudang-Ku tidak akan terbakar, tidak akan
tenggelam, dan tidak akan kecurian. Aku penuhi segala yang menjadi kehendakmu.”
Terhadap mereka yang
dermawan, Tuhan berjanji, “Orang-orang yang beriman dan gemar mengerjakan
perbuatan baik (amal saleh), mereka mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia.”
[QS Al Haji (22):50].
Saat ini ekonomi bangsa
dan negara Indonesia hancur-hancuran. Banyak pabrik tutup, belasan juta orang
menganggur, puluhan juta orang bertambah miskin, jutaan orang kelaparan, dan
tidak sedikit pelajar dan mahasiswa terancam putus sekolah. Dalam kondisi seperti
ini, sekadar satu-dua liter beras, satu kilogram minyak goreng, dan beberapa
bungkus mi instan terasa begitu berarti. Selayaknya mereka yang mempunyai
sedikit kelebihan rezeki, menyisihkan sebagian rezekinya untuk mereka yang
kekurangan. Baik menyalurkan secara langsung kepada para tetangga yang miskin,
panti asuhan/yatim piatu, maupun lewat lembaga-lembaga yang diyakini mampu
menjalankan amanat tersebut dengan baik. Alangkah indahnya kalau mereka
mensyukuri karunia Allah tersebut dengan berbagi kepada saudara-saudaranya
sebangsa yang tengah dilanda kesulitan-kesulitan hidup.
Nabi Muhammad saw
menempatkan sikap menolong sesama - dengan cara menyisihkan sebagian rezeki
yang diterima - sebagai bukti cinta. “Tidaklah beriman seorang di antara kamu
hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri,” tandas
Nabi Muhammad saw kepada sahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar