Dikisahkan, ada dua orang
bersaudara yang satu seorang ahli ibadah (abid) dan yang lain kerap melakukan maksiat.
Suatu hari nafsu si abid ini diperdaya untuk mengikuti tarikan syahwatnya,
hanya sekedar rehat saja, setelah bertahun-tahun usianya habis untuk ibadah. “Setelah
itu, toh, bisa bertobat. Allah kan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”
demikian hasutan nafsunya.
Dalam benaknya, si abid
berkata, “Sekali waktu boleh juga aku turun ke tempat saudaraku di lantai bawah
untuk bergabung bersamanya dalam melampiaskan nafsu syahwat dan pesta pora.
Setelah itu, dari sisa usia yang ada, aku akan bertobat dan kembali beribadah.”
Si ahli ibadah pun setuju dengan niatnya itu. Sedangkan saudaranya yang gemar
maksiat berkata seorang diri, “Umurku sudah dihabiskan dalam
kemaksiatan....Kelak saudaraku yang ahli ibadah akan masuk sorga, dan aku akan
masuk neraka... Wallahi, demi Allah! Kini aku bertobat, naik ke lantai atas di
tempat saudaraku dan ikut ibadah bersamanya selama sisa hidupku ini. Semoga
Allah mengampuniku.”
Kemudian ia pun naik dengan niat yang mantap untuk bertobat,
sedangkan saudaranya turun dengan niat untuk maksiat. Namun yang terakhir ini
kakinya terpeleset, lalu jatuh persis menimpa saudaranya, dan akhirnya kedua
bersaudara itu pun mati bersama-sama. Maka ketika dibangkitkan, si abid
mengantongi niat untuk maksiat, sedangkan si pelaku maksiat punya niat untuk
bertobat. Kisah yang terdapat dalam buku Mi’ah Qishshah wa Qishshah, karya M. Amin
at Jundi, ini menggugah kita perihal jalan hidup manusia yang sungguh
misterius. Seperti doa yang diajarkan Nabi SAW, tentu saja kita berharap
memperoleh khusnul-khatimah dan berlindung dari su'’ul-khatimah. Namun, ketika
kita semua tengah berarak menuju titik finish itu, kita sering terkecoh dengan
amalan kita sendiri, seraya menganggap diri kita saja yang paling saleh dan
menilai orang lain tidak ada apa-apanya. Padahal, Masya Allah, amal kita itu
hanya setetes saja dari lautan kewajiban yang berada di pundak kita. Itupun
kalau ikhlas kita melakukannya, kalau tidak? Na'udzubilahi mindzalik. “Sesungguhnya
segala perbuatan ditentukan oleh yang terakhir,” kata Nabi SAW dalam hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Karenanya jangan sekali-kali tertipu oleh
perilaku baik manusia, juga jangan putus asa dengan perilaku buruk seseorang
karena yang paling menentukan adalah akhir kehidupan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar