Secara garis besar, ajaran
Islam meliputi tiga aspek penting, yaitu akidah, syariah dan akhlak. Dengan
begitu bisa dikatakan akhlak merupakan sepertiga dari ajaran Islam dan
sekaligus menjadi puncak dari seluruh rangkaian ajaran Islam. Bahkan semua
bentuk ibadah, bermuara pada pembentukan akhlak yang mulia. Ini tergambar
misalnya bahwa shalat dimaksudkan untuk mencegah diri dari perbuatan keji dan
mungkar, puasa berujung pada ketaqwaan, zakat untuk membersihkan harta dan jiwa,
sedangkan ibadah haji menitik beratkan pada pengorbanan fisik, harta dan
persaudaraan sedunia. Akhlak yang mulia berakar dari pancaran keimanan. Itulah
sebabnya, kata ‘iman dan amal shaleh’ selalu disebut bertautan dalam Al Quran.
Artinya keimanan yang kuat akan mendorong seorang Muslim untuk senantiasa
melakukan perbuatan yang baik.
Akhlak mulia Islam bermula
dari keshalehan pribadi/individu. Dan keshalehan pribadi itulah yang akan
membentuk keluarga yang shaleh. Dan keluarga yang shaleh merupakan salah satu
ciri bagi suatu tatanan masyarakat sosial yang bermoral. Keshalehan pribadi
seorang Muslim berawal dari kebersihan jiwa yang terhindar dari berbagai macam
penyakit hati, seperti: iri, hasut, dengki, benci dan lain-lain. Dalam jiwa
yang bersih, cinta tulus ikhlas terhadap sesama manusia akan tumbuh dan
terpancar jelas pada penampilan dan raut wajah serta lisan yang selalu berkata
baik/benar. Rasulullah saw menjelaskan “Tersenyum di depan wajah saudaramu
adalah shadakoh.” (HR Tirmidzi). Pada hadis lain beliau mengatakan : “Orang Muslim itu adalah orang yang membuat
orang lain terbebas dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Muslim). Saat
Ini ketika bangsa kita sedang menghadapi berbagai macam masalah sosial, selaku
Muslim kita dituntut untuk selalu bersikap proaktif yang pada pokoknya ‘Jangan
cela kegelapan, tapi nyalakanlah pelita.’ Dengan kata lain seorang muslim
senantiasa berpartisipasi langsung dalam bentuk perbuatan. Seperti membantu
orang yang kesusahan, mendamaikan sesama yang sedang bertengkar atau berselisih
paham, bukannya lalu menjadi propokator yang mengeruhkan keadaan, hingga
terjadi kerusuhan dan kekacauan. Sebagaimana Rasulullah saw telah mengajarkan
kita lewat sabdanya: “Tebarkanlah salam, berikanlah makan kepada orang yang
kelaparan, sambunglah hubungan silaturahmi dan shalatlah tahajud, tatkala semua
orang terlelap tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan aman dan sejahtera”
(HR Tirmidzi). Jadi tindakan orang Muslim harus selalu dihiasi dengan akhlak
mulia.
ana iwak e nang ngisor kae ceng,, hahaha
BalasHapusdi seser yo keno,.
BalasHapusnjuk dibakar,.
hehehehe....