Senin, 13 Februari 2012

Akhlak Sosial Islam


Secara garis besar, ajaran Islam meliputi tiga aspek penting, yaitu akidah, syariah dan akhlak. Dengan begitu bisa dikatakan akhlak merupakan sepertiga dari ajaran Islam dan sekaligus menjadi puncak dari seluruh rangkaian ajaran Islam. Bahkan semua bentuk ibadah, bermuara pada pembentukan akhlak yang mulia. Ini tergambar misalnya bahwa shalat dimaksudkan untuk mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, puasa berujung pada ketaqwaan, zakat untuk membersihkan harta dan jiwa, sedangkan ibadah haji menitik beratkan pada pengorbanan fisik, harta dan persaudaraan sedunia. Akhlak yang mulia berakar dari pancaran keimanan. Itulah sebabnya, kata ‘iman dan amal shaleh’ selalu disebut bertautan dalam Al Quran. Artinya keimanan yang kuat akan mendorong seorang Muslim untuk senantiasa melakukan perbuatan yang baik.
Akhlak mulia Islam bermula dari keshalehan pribadi/individu. Dan keshalehan pribadi itulah yang akan membentuk keluarga yang shaleh. Dan keluarga yang shaleh merupakan salah satu ciri bagi suatu tatanan masyarakat sosial yang bermoral. Keshalehan pribadi seorang Muslim berawal dari kebersihan jiwa yang terhindar dari berbagai macam penyakit hati, seperti: iri, hasut, dengki, benci dan lain-lain. Dalam jiwa yang bersih, cinta tulus ikhlas terhadap sesama manusia akan tumbuh dan terpancar jelas pada penampilan dan raut wajah serta lisan yang selalu berkata baik/benar. Rasulullah saw menjelaskan “Tersenyum di depan wajah saudaramu adalah shadakoh.” (HR Tirmidzi). Pada hadis lain beliau mengatakan : “Orang Muslim itu adalah orang yang membuat orang lain terbebas dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Muslim). Saat Ini ketika bangsa kita sedang menghadapi berbagai macam masalah sosial, selaku Muslim kita dituntut untuk selalu bersikap proaktif yang pada pokoknya ‘Jangan cela kegelapan, tapi nyalakanlah pelita.’ Dengan kata lain seorang muslim senantiasa berpartisipasi langsung dalam bentuk perbuatan. Seperti membantu orang yang kesusahan, mendamaikan sesama yang sedang bertengkar atau berselisih paham, bukannya lalu menjadi propokator yang mengeruhkan keadaan, hingga terjadi kerusuhan dan kekacauan. Sebagaimana Rasulullah saw telah mengajarkan kita lewat sabdanya: “Tebarkanlah salam, berikanlah makan kepada orang yang kelaparan, sambunglah hubungan silaturahmi dan shalatlah tahajud, tatkala semua orang terlelap tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan aman dan sejahtera” (HR Tirmidzi). Jadi tindakan orang Muslim harus selalu dihiasi dengan akhlak mulia.

2 komentar:

  1. ana iwak e nang ngisor kae ceng,, hahaha

    BalasHapus
  2. di seser yo keno,.
    njuk dibakar,.
    hehehehe....

    BalasHapus