Islam, seperti dijelaskan Imam Ali bin Abi Thalib, mengajarkan bahwa dengan bekerja kita tidak hanya bisa membahagiakan diri sendiri, tapi juga orang lain : keluarga, tetangga, atau saudara. Imam Ali mengatakan, “Tahukah Anda, siapakah orang yang dapat dipercaya oleh manusia dalam harta dan jiwa mereka.”Lalu tambahnya, la bekerja keras untuk membahagia-kan orang lain.” Nabi SAW sendiri menyamakan bekerj a dengan berjuang di jalan Allah. Suatu pagi, seperti ditulis oleh Hamid Husaini dalam bukunya Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW, Rasulullah SAW duduk bersama para sahabat. Saat itu, mereka melihat seorang pemuda berbadan tegap dan kekar sedang berjalan. Seorang diantara mereka berkata sinis. “Huh pemuda apa itu! Alangkah baiknya kalau kemudaan dan kekuatan tubuhnya itu diabdikan dalam perjuangan di jalan Allah, yaitu berperang.” Mendengar ucapan itu, Nabi saw menyahut,” Janganlah kalian berkata begitu!Kalau ia pergi hendak bekerja (berusaha) untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri agar tidak tergantung pada orang lain, itu sudah merupakan perjuangan di jalan Allah. Kalau ia berusaha mencukupi penghidupan ayah ibunya yang sudah lemah, atau memberi nafkah kepada keluarganya agar mereka tidak meminta-minta belas kasihan orang lain, itu pun sudah berjuang di jalan Allah!”Hadis di atas mengingatkan kita untuk berpacu bekerja, setiap hari. Allah memberi rezeki sesuai dengan yang kita usahakan. (Q.S 53:39). Allah SWT juga menjelaskan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (Q.S 28:77). Dalam tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin Al-Suyuthi menjelaskan bahwa perintah untuk bekerja keras itu adalah agar kita bisa berinfak, dan dengan demikian kita menerima pahala amal saleh. Bekerja menjadi media kita untuk berbuat baik kepada sesama manusia, yaitu dengan memberikan sedekah hasil kita bekerja. Sedangkan Sayyid Muhammad Husain Thabathabai, dalam bukunya Al-Mizan fi Tafsir Alquran menjelaskan bahwa kita harus mencari apa yang diberikan Allah dari harta dunia ini sebagai bekal hidup di akhirat. Harta itu kita infakkan di jalan Allah kepada sesama manusia, dengan harapan kita mendapat ridha-Nya. Kita tidak boleh melupakan atau meninggalkan apa yang direzekikan Allah kepada kita. Karena itu, kita harus bekerja keras di dunia ini untuk tabungan amal di akhirat. Kata Thabatabai, hakikat hidup seorang di dunia ini adalah ia bekerja di dalamnya untuk kehidupan akhirat yang kekal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar